Siang terasa lengang kali ini. Awan kelam menyelimuti mentari yang kali ini tak kuasa mengintip menembus tirai gelap itu. Seperti biasa ini hanya sebuah pertanda akan datangnya hujan. Hujan, aku selalu suka hujan sejak kecil sampai sekarang dan kupastikan sampai tua nanti. Hujan yang selalu menyegarkan, memberikan ketenangan dan selalu membuatku ingin meringkuk mencumbu kasur empuk berselimut menikmati tidurku, walau terkadang dia marah dan membuatku takut.
Tetapi hujan kali ini berbeda, dia mengingatkanku banyak kenangan semua cerita yang kulalui dan banyak bisikan yang masuk dikepalaku. Di kamar ini, kamar gelap ini. Kamar yang selalu aku singgahi dikala ku ingin sendiri, aku meringkuk menikmati hujan dari balik jendela. Tetes demi tetes jutaan bulir hujan menghujam ke Bumi menciptakan harmoni, saat menghujam ke tanah, bertabrakan dengan atap genteng, atap seng, saat menyatu dengan tenangnya kolam ikan, membasuh memandikan anggrek yang ada di halaman belakang yang terlihat semakin segar. Dan aku selalu suka itu.
Dikamar ini, kamar gelap ini. Sejatinya ada banyak kamar di rumahku ini, apalagi semenjak adikku kuliah kamarnya yang kosong tak jarang ku tidur di kamarnya. Tetapi tetap kamar gelap ini yang selalu menemani saat ku ingin sendiri. Terlalu banyak kepalsuan yang kujalani, dan hanya tawa yang selalu mereka lihat dari diriku, mereka tak pernah melihat kesedihan yang kualami. Yak, aku adalah iblis bermuka dua begitu mudahnya mengelabuhi mereka dengan senyum dan tawa. Sebuah bungkus yang sempurna untuk memastikan aku terlihat bahagia. Mungkin aku terlalu pintar atau bahkan terlalu bodoh hingga aku lupa siapa aku.
Bulir demi bulir hujan menghujami atap kamarku dan aku masih diam menatap keluar jendela menikmati hujan kali ini. Kunyalakan rokok yang belakangan ini menemaniku, teman sekaligus monster pembunuh yang akan membunuhku secara perlahan. Meredam tiap emosiku mengendalikan amarah yang membuncah dalam tiap kepulan asapnya. Batang demi batang kunikmati semakin membuat kamar gelap ini pekat akan asap. Banyak bisikan di otakku kali ini mengingatkanku akan masa kecilku di tiap hujan bersama kawan kawanku bermain bola sampai mencuri rambutan tetangga saat hujan. Menikmati kecerian saat berlarian dan terjatuh dengan wajah penuh lumpur, saling menghujat dan tertawa bersama kala itu. Ah... Aku rindu masa masa itu.
Kunyalakan lagi satu batang teman setiaku kunikmati tiap asap yang mengalir melalui tenggorokanku dan memenuhi tiap rongga di paru paruku. Sekelebat terlihat tulisan yang selalu tercantum di bungkus rokok hasil karya departemen kesehatan " merokok dapat mengakibatkan impotensi gangguan jantung dan bla bla bla...". Kali ini otakku memutar kejadian beberapa waktu lalu saat dokter berkata padaku, bahwa aku memiliki kelainan dalam irama jantung, sebuah penyakit genetik keturunan dari keluargaku yang tak pernah kuceritakan pada mereka. Apa aku akan mati dibunuh oleh temanku ini? entahlah biar Tuhan yang memilih cara terindah saat memanggilku pulang nanti. Tak terasa satu jam berlalu dan masih hujan diluar sana.
Akhirnya kuputar lagu yang biasa menemaniku saat hujan, "Desember" dan "Melankolia" Efek Rumah Kaca. Bait demi bait kudengarkan bersamaan dengan harmoni hujan diluar sana, sungguh menenangkan. Tak terasa usai sudah kedua lagu itu menemaniku dan tiba tiba handphoneku berbunyi, hanya dering sms. Kemudian kubaca sms itu dan kubalas dengan singkat.
<D> Sayang km lg apa?
<A> Sedang maen gitar aj disini lg hujan
<D> Kamu sudah makan belum?
Pesan singkat dari seseorang yang belakangan ini menemani kesendirianku, dan aku berbohong lagi dan lagi gitarku teronggok diam membisu dipojok kamarku tak kusentuh. Entah aku tak tahu apa aku mencintainya atau aku menyayanginya atau pelarian atas kesendirianku atau bahkan hanya rasa penasaranku saja. Walau aku terkadang merasa tak pantas untuk memilikinya seharusnya dia bersama orang yang lebih baik dariku, dia yang selalu memperhatikanku, mengkhawatirkanku walau selalu aku sisipkan kata " aku bukan orang baik" di tiap obrolanku dengannya, hanya untuk mengingatkannya dan dia selalu tak peduli itu. Kuambil nafas panjang dan kamarku semakin gelap yang dipenuhi asap pekat rokokku. Aku diam dan pesan terakhir dari dia tak kubalas.
Hujan kini tinggal menyisakan gerimis kukeluarkan tanganku dari jendela, kunikmati tiap bulir hujan yang jatuh membasuh kulitku yang terserap perlahan kedalam pori poriku. Satu tetes, dua tetes sampai ratusan atau mungkin ribuan bulir hujan membasuh tanganku segar sekali dan aku suka. Dan akhirnya hujanpun berhenti yang tersisa hanya awan abu abu yang menutup langit. Tak kulihat pelangi di atas sana, hanya awan abu abu padahal aku sangat ingin melihat pelangi kali ini. Ah... mungkin memang gak berjodoh batinku. Aroma tanah sehabis hujan menyeruak masuk melalui jendelaku dan kuhirup perlahan dan kunikmati. Andai saja aku bisa memasukkan aroma ini kedalam botol pasti akan kubuat parfum yang akan kupakai tiap hari agar terasa seperti hujan selalu menemaniku.
Aku diam dan menikmati kesunyian ini, mungkin terlalu banyak yang masuk dikepalaku terlalu banyak yang kulalui. Apa harus kulepas topeng ini? terlalu lama aku berteman palsu aku rindu aku. Mungkin sudah saatnya kunyalakan lampu kamar gelap ini, mungkin sudah saatnya aku bermetamorfosis menjadi aku yang baru. Ingin rasanya ku kubur aku dalam liang terdalam dan paling sempit dan kutimbun sendiri agar kupastikan sisi gelapku mati dan tak kembali. Kuyakinkan hatiku kali ini. Aku adalah aku, aku melakukan apa yang aku lakukan meskipun aku tak tahu siapa aku biar kutemukan aku yang baru yang lebih baik. Perlahan tapi pasti dalam langkahku kemudian kunyalakan lampu yang menyinari kamar gelap ini. Aku tersenyum. Tiba tiba handphoneku berbunyi lagi kali ini bunyi telepon yang kemudian kuangkat.
"Sayang smsku kok gak dibalas sih"
"Maaf aku lupa"
"Yaudah gakpapa kok, pasti kamu lagi keasyikan nikmatin hujan"
"Hehehehe.... Iya, kamu tahu gak apa yang aku rasain sekarang?"
"Apa?"
"Aku bahagia"
Ps: special thanks to Gudang garam surya 12, Efek Rumah Kaca dan Hujan sehingga menginspirasi gw buat cerita aneh ini :cool: buat para pembaca jika ada kesamaan atau kemiripan dengan kisah disekitar anda mohon maaf mungkin itu disengaja "Selamat Menikmati".
:)kurangin rokoknya
BalasHapusnot now, maybe someday :)
HapusJaaaaaaaaall... Ati2 sama kamuflase dari Move On, pelarian! :)))
BalasHapus